Jumat, 30 November 2012

MITOS SENTHANA DUWUR, DESA DAWUNG, KECAMATAN SAMBIREJO, KABUPATEN SRAGEN ( TRADISI ORAL )


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang masalah
Masing-masing daerah atau tempat tertentu pasti memiliki cerita atau sejarah masing-masing. Hal yang menjadi sorotan utama dalam sejarah atau cerita dari sebuah tempat adalah mitosnya. Mitos sendiri adalah cerita yang mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa yang mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib. Di indonesia sendiri dari masing-masing daerah memiliki mitos masing-masing juga tentunya, dan di desa dawung wilayah kabupaten sragen ada sebuah mitos tentang senthana duwur. Mitos Senthana duwur adalah salah satu  mitos dari desa dawung kabupaten sragen yang belum banyak di kenal oleh masyarakat luas, atau bahkan masyarakat luar desa dawung sendiri banyak yang kurang mengenal  mitos tersebut. Maka dari itu penulis akan mengkaji dari mitos Senthana duwur kedalam sebuah bentuk tuulisan supaya lebih di kenal oleh masyarakat luas hingga mengetahui cerita yang sesungguhnya dari mitos Senthana duwur tersebut. Masyarakat luas maupun masyarakat sekitar banyak yang belum mengetahui kebenaran dari mitos ini. Banyak yang menganggap ini hanya cerita fiktif karangan para nenek moyang. Namun sesungguhnya mitos ini ada keterkaitan dengan kerajaan majapahit dan untuk mengetahui kebenaran bahwa cerita ini fiktif atau tidaknya penulis di sini akan memaparkan tentang (1) sejarah mitos, (2) upacara adat dalam kebudayaan masyarakat setempat yang meyakini terhadap tempat yang di mitoskan, serta (3) pengamatan penulis terhadap kebenaran mitos melalui penelitian dan pengumpulan data dari masyarakat setempat.




1.2  Rumusan masalah
Dari latar belakang demikian penulis dapat menggali dan merumuskan beberapa permasalahan dari mitos senthana duwur seperti yang terdapat dalam latar belakang yakni :
1.2.1       Bagaimana sejarah dan bentuk dari mitos senthana duwur ?
1.2.2       Adakah upacara adat atau ritual dari mitos senthana duwur dan bagaimana prosesinya?
1.2.3       Bagaimana masyarakat setempat menyikapi mitos ini

1.3  Tujuan Penulisan dan penelitian
Dalam penulisan ini, penulis melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap mitos senthana duwur berdasar data pengamatan langsung dan wawancara dari orang yang ahli atau benar-benar mengetahui tentang senthana duwur. Sehingga mendapat data yang dapat di rangkai dan di tuangkan seperti tujuan utama penulisan yaitu sebagai pemenuhan tugas akhir semester II studi S1-Etnomusikologi dalam mata kuliah tradisi oral. Selain itu tujuan lain dari penulisan ini adalah:
1.3.1       Mengetahui sejarah asal mula dari mitos senthana duwur sebenarnya.
1.3.2       Memperkenalkan keberadaan mitos senthana duwur kepada masyarakat luas.
1.3.3       Memberikan apresiasi tentang cerita mitos melalui penelitian dengan pemahaman tradisi oral (lisan) yang di tuangkan kedalam tulisan berbentuk artikel kepada pembaca

1.4  Metode Penelitian
Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian dan penulisan ini adalah metode yang memiliki sifat yang sesuai dengan sifat penelitian dalam tulisan ini. Yakni metode wawancara dengan mengumpulkan data kontekstual dari masyarakat setempat yang lebih tahu tentang seluk-buluk dari objek penelitian. Untuk mendapat hasil yang maksimal sesuai tema dan masalah yang akan di bahas, dalam artikel ini penulis menggunakan pendekatan fungsionalisme. Pendekatan fungsionalisme secara ontologis  melihat  kebudayaan sebagai sebuah kesatuan (dari bagian-bagian/ unsur-unsur) yang terintegrasi.

1.5  Mekanisme Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar belakang masalah
1.2    Rumusan masalah
1.3    Tujuan penulisan
1.4    Metode penelitian
1.5    Mekanisme penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1.  Awal terbentuk serta wujud mitos senthana duwur
2.2.  Data analisis dari hasil wawancara kepada Sunarto
2.3.  Data analisis dari hasil wawancara kepada Atmo Ngadiyo
2.4.  Data analisis dari hasil wawancara kepada Marto Paimin.
BAB III KESIMPULAN DAN PENUTUP
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Awal terbentuk serta wujud mitos senthana duwur
Mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa yang mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib (kamus besar bahasa indonesia). Di indonesia hampir setiap daerah memiliki mitos tersendiri. Bahkan setiap dukuh atau desa satu dengan yang lain memiliki cerita mitos yang berbeda walaupun mungkin intisari ceritanya sama namun tetap berbeda dengan versi tersendiri dari tiap-tiap tempat yang berbeda. Seperti misal dari mitos senthana duwur yang akan di ungkap dalam artikel ini. Senthana duwur adalah sebuah tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat desa dawung. Tempat ini adalah berbentuk kumpulan beberapa pohon besar yang kini tinggal satu dan dua makam. Awal mula dari tempat ini ada beberapa macam namun untuk sementara sebagai hipotesis peneliti menggunakan data berikut menurut seorang juru kunci dari senthana duwur. Konon menurutnya sejarah tempat ini adalah bekas dari persinggahan brawijaya yang sedang melakukan perjalanan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci di saudi arabia. Namun belum sepenuhnya data tersebut benar karena di dapat juga data yang berbeda dari masyarakat desa dawung yang lain. Peneliti mengalami kesusahan untuk menentukan data yang benar-benar dapat di percaya karena dari hasil penelitian di lapangan dengan metode wawancara terhadap masyarakat sekitar telah di dapat tiga data yang berbeda dan belum bisa di pastikan semua. Ketiga data tersebut di dapatkan dari Sunarto yakni salah seorang ulama di desa dawung, kedua dari Atmo Ngadiyo yakni seorang petani yang memiliki ladang di sekitar senthana duwur dan terakhir tentu di dapat dari Marto Paimin adalah seorang juru kunci dari senthana duwur.




2.2 Data analisis dari hasil wawancara kepada Sunarto
Data pertama di dapatkan penulis dari Sunarto yakni salah seorang ulama di desa Dawung. Ia memaparkan tentang mitos senthana duwur yang di lihat dari paradigma kekinian yakni ia menjelaskan bahwa dari bentuk tempat yang terdiri dari pohon besar dan dua makam ini nama aslinya adalah Eyang Singo Rotan. Eyang singo rotan adalah seorang pertapa yang dulu pernah bertapa di hutan atau alas sentana tepatnya di bawah pohon besar yang aneh tersebut. Konon menurut masyarakat setempat eyang singo rotan bertapa di tempat itu kira-kira ratusan tahun yang lalu. Maksud dan tujuan ia bertapa di situ adalah untuk mencari ketenangan hidup dan anugerah atau wahyu dari para dewa karena saat itu keluarganya sedang tertimpa musibah, istri anak dan cucunya semua terkena penyakit yang aneh, susah mencari nafkah dan kelaparan. Akhirnya Eyang Singo Rotan memutuskan untuk bertapa di alas sentana. Namun di tengah-tengah pertapanya ia hilang secara aneh tanpa sebab yang pasti tepatnya pada hari jum’at legi.  Maka dari itu ,samapai sekarang setiap hari jum’at legi masyarakat setempat mengadakan upacara ritual untuk mengenang eyang singo rotan. Masyarakat setempat mempercayai jika mengadakan upacara sesaji tersebut maka mereka akan mendapatkan berkah dan kesuburan bagi pertanian mereka karena dahulu masyarakat setempat sebagian besar bermata pencaharian dengan bercocok tanam.
            Masyarakat menyebut upacara sesaji tersebut dengan nama “nyadran”. Prosesi dalam upacara sesaji di tempat itu pada umumnya sama dengan upcara sesaji di tempat-tempat dan daerah yang lain. Dalam garis besarnya tidak ada yang berbeda dengan yang lain. Yakni terdiri dari prosesi peribadatan dengan menggunakan sesaji yang terdiri dari nasi tumpeng atau nasi gurih, ingkung yakni ayam utuh yang di panggang, sayur sambel goreng, dan krupuk merah. Selain itu juga kadang menggunakan jenang tujuh warna (Bubur kental) dan kembang setaman (sesjenis bunga racikan). Juga tidak ketinggalan yang paling penting di gunakan adalah kemenyan atau dupa. Prosesi di lakukan tepat di sebelah makam di bawah pohon. Waktu pelaksanaan ada dua versi berbeda, versi lama dari masyarakat tertua adalah di lakukan pada sore hari setelah matahari tenggelam sedangkan untuk generasi yang lebih muda melaksanakan di waktu pagi hari sekitar jam 06.00 WIB. Prosesi upacara biasa di pimpin oleh seorang tetua desa yang disebut dengan modin[1].

“...memang seperti itu prosesi nyadran di senthana duwur le. Dulu masyarakat setempat sangat percaya dan meyakini untuk panggonan angker (yang di maksud tempat senthana duwur) disana. Mulo masyarakat itu masih mengadakan acara nyadran. Tapi kalau sekarang kayaknya sudah gak ada yang melakukan acara itu le. Alhamdulillah karena keyakinan masyarakat yang makin hilang kepada mbah Singo Rotan dan sudah banyak sekali masyarakat yang sudah mulai sadar melakukan sholat lima waktu... “ (wawancara kepada Sunarto di kediamannya di desa dawung pada 26 April 2012 pukul 09.43)

Dari hasil wawancara terhadap narasumber di atas, narasumber menggunakan bahasa campuran dari bahasa indonesia dan bahasa jawa. Namun disini akan diterangkan mengenai isi dari hasil wawancara tersebut. Menurut narasumber, ia menyatakan bahwa senthana duwur adalah tempat yang angker dan dulu disana masih sering diadakan upacara adat yang disebut nyadran. Namun sekarang sudah tidak pernah dilakukan karena sudah banyak masyarakat desa dawung yang menjalankan sholat lima waktu.
Menurut Sunarto yang menyatakan bahwa upacara sesaji di makam senthana duwur sudah jarang dilakukan karena sudah banyak masyarakat yang sudah sadar akan agama islam memang benar. Karena dari hasil pengamatan peneliti, sekarang di desa dawung sudah berdiri sebuah pondok pesantren Baitul Qur’an yang sangat berperan karena dapat menyebarkan wabah bernuansa islami kepada masyarakat desa dawung. Bahkan hingga sekarang dampak dari pondok pesantren Baitul Qur’an telah mencetak hafidz dan hafidzah di desa dawung dengan harapan akan menjadi ulama yang besar untuk masyarakat desa dawung ataupun bangsa indonesia.

2.3 Data analisis dari hasil wawancara kepada Atmo Ngadiyo
            Dalam pengumpulan data kedua ini memang peneliti tidak melakukan wawancara secara langsung. Data yang diperoleh adalah berdasar keterangan narasumber yang tidak sengaja diperoleh oleh peneliti pada saat melakukan pengamatan secara langsung. Dan data kedua yang didapat oleh peneliti dari narasumber kedua yakni Atmo Diyono kurang lebih hampir sama dengan data yang diperoleh dari narasumber pertama Sunarto. Namun ada sedikit perbedaan yakni dalam hal penyebutan nama dari makam pada senthana duwur. Sunarto menyebutkan bahwa nama dari makam di senthana duwur adalah Eyang Singo Rotan namun oleh Atmo Diyono menyebutkan nama dari makam itu adalah Eyang Singgo Ruto dan Eyang Singgo Riti. Mereka adalah dua pertapa kembar yang mencoba untuk mencari wahyu untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga mereka yang sedang tertimpa musibah. Anak serta istri dan semua anggota keluarga mereka terkena penyakit yang aneh dan susah di sembuhkan, susah mencari nafkah dan bahkan untuk sekedar makan sehari-hari pun susah.
Prosesi kebudayaan setempat yang di lakukan untuk menghormati senthana duwur yang di anggap sakral adalah upacara guwak-guwak. Upacara ini biasanya dilakukan oleh seseorang yang akan melakukan hajatan dan di lakukan sehari sebelum acara berlangsung. Dalam prosesi ini biasa dipimpin oleh seorang ulama desa yang dikenal sebagai modin. Sebenarnya prosesi ini tidak hanya di lakukan oleh masyarakat setempat terhadap makam senthana duwur namun juga dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap keramat[2] oleh masyarakat setempat. Dalam upacara adat guwak-guwak ini, masyarakat menggunakan sesaji yang terdiri dari bunga 7 warna, kemenyan, jajan pasar serta uang kecil[3]. Upacara ini menurut analisis peneliti adalah sebuah acara yang dapat menyatukan masyarakat menjadi satu kesatuan. Dilihat dari prosesinya upacara ini justru banyak diikuti oleh anak-anak kecil. Hal ini dinilai adalah sebagai wujud para orangtua untuk menanamkan rasa kebersamaan kepada anak-anaknya. Walaupun anak-anak ini tertarik dalam prosesi upacara guwak-guwak karena ada pembagian uang kecil ini namun hal demikian tidak menjadi masalah bagi para orangtua yang mengawasi mereka. Karena bagi para orangtua di desa dawung yang terpenting untuk anak mereka adalah menanamkan rasa kebersamaan. Sehingga dapat tercipta kelompok masyarakat yang bersatu dan ayem tentrem[4] dimasa mendatang.

2.4 Data analisis dari hasil wawancara kepada Marto Paimin
            Marto paimin memang berbeda dengan narasumber yang lain. Ia adalah seorang juru kunci dari senthana duwur. Namun disinilah kesulitan terbesar peneliti terjadi saat melakukan pengumpulan data berdasar narasumber ini karena usianya yang sudah sangat lanjut yakni sekitar 80-an. Maka hanya sedikit informasi valid yang didapat dari narasumber dan banyak yang diragukan, padahal narasumber adalah seorang juru kunci yang dinilai paling tahu tentang mitos dari senthana duwur.
            Manurut Marto Paimin senthana duwur adalah sebuah tempat keramat petilasan dari persinggahan Brawijaya dari Majapahit. Di sana terdapat banyak pohon besar dengan jenis sempu dan dua makam yang dikeramatkan. Menurut ia sehubungan dengan wujudnya, tempat ini memiliki sejarah yang berhubungan langsung dengan kerajaan majapahit. Konon pada zaman dahulu Brawijaya sedang melakukan perjalanan menuju tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Tiba ditengah perjalanannya, Brawijaya beristirahat disebuah tempat. Ditempat itu Brawijaya menancapkan tongkatnya di tanah dan munculah satu gundukan tanah yang di yakini masyarakat kini sebagai makam keramat. Sedangkan makam yang satu lagi muncul akibat dari sisa putung rokok dari Brawijaya yang dibuang olehnya sehingga membekas sebagai gundukan tanah yang kini juga di yakini masyarakat sebagai makam keramat. Untuk prosesi dalam menghormati tempat keramat senthana duwur menurut narasumber Marto Paimin sama persis seperti yang di terangkan oleh Atmo Ngadiyo, yakni dengan prosesi sesaji guwak-guwak.
BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Kesimpulan dari hasil analisis oleh peneliti adalah senthana duwur memang menurut masyrakat sekitar memiliki beberapa sejarah dan asal mula yang berbeda-beda. Namun pada dasarnya dari data hasil wawancara terhadap ketiga narasumber Sunarto, Atmo Diyono dan Marto Paimin dinilai bahwa data dari Marto Paimin lah yang menurut Peneliti paling mendekati kebenaran dari sejarah senthana duwur. Dikarenakan ia adalah seorang juru kunci sekaligus tetua dalam masyarakat desa dawung. Namun karena faktor usia yang sudah lanjut maka di pastikan banyak data yang sebenarnya penting atau perplu untuk dicantumkan namun hilang karena narasumber yang sudah memasuki usia lanjut sehingga menjadikannya lupa terhadap informasi-informasi yang terpenting dari mitos senthana duwur yang sebenarnya. Sebenarnyapun sebuah mitos tidak kmungkin dibuktikan kebenarannya. Hanya dapat dipastikan cerita-cerita yang paling mendekati sesuai bentuk tempat ataupun menurut narasumber yang paling tahu dari tempat tersebut.
Kesimpulan dari asal-usul senthana duwur secara garis besar adalah bermula dari majapahit. Yakni tempat persinggahan Brawijaya saat melakukan perjalanan ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Prosesi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk menghormati tempat tersebut pada setiap tahunnya disebut nyadran dan pada setiap ada orang hajatan juga dilakukan prosesi upacara adat guwak-guwak. Namun untuk masa sekarang acara ritual tersebut sangat jarang sekali bahkan tidak pernah dilakukan lagi menginggat sudah banyak ulama yang muncul di desa dawung. Bahkan sekarangpun sudah berdiri sebuah pondok pesantren Baitul Qur’an yang memberi dampak yang besar bagi masyarakat desa dawung. Dampak yang dimaksud bukan dalam esensi negatif namun dampak tersebut adalah dapat menjadikan masyarakat desa dawung menjadi taat beribadah dan semakin bertaqwa kepada Allah SWT. Secara garis besar demikian hasil pengumpulan data oleh peneliti. Mengingat juga peneliti mendapatkan tiga data yang berbeda.

Mungkin tulisan ini dinilai belum memenuhi untuk dibaca dan sebagai wacana pe pengetahuan dikarenakan minimnya pengetahuan oleh penulis atau peneliti. Maka penulis mengharap sekali jika ada masukan atau kritik dari pembaca terhadap tulisan ini. Tentu banyak kata ataupun kalimat yang salah  ataupun mungkin menyninggung dihati pembaca, penulis meminta maaf sebesar-besarnya. Harapan terakhir semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khalayak umum.
LAMPIRAN
IMG0087A.jpg
Gambar 1: Bentuk dari pohon besar (pohon sempu) di senthana duwur (Foto Nurseto Bayu Aji pada ‎10 ‎Juni ‎2012, ‏‎11:40)

IMG0083B.jpg
Gambar 2: Dua Makam di senthana duwur yang kini sudah tidak terawat (Foto Nurseto Bayu Aji pada ‎10 ‎Juni ‎2012, ‏‎11:40)







DAFTAR PUSTAKA
Kamus besar bahasa Indonesia
Sunarto (39) Seniman pedalangan, Dk Garuut Rt 004, Ds Dawung, Kec. Sambirejo, Kab. Sragen
Atmo Ngadiyo (60) Petani, Dk Garuut Rt 004, Ds Dawung, Kec. Sambirejo, Kab. Sragen
Marto Paimin (80) Juru Kunci senthana duwur, Dk Garuut Rt 002, Ds Dawung, Kec. Sambirejo, Kab. Sragen



[1] Modin adalah penyebutan oleh orang jawa kepada ulama atau ustadz yang terkemuka di kampung atau desanya. Seperti dahulu masih zaman kerajaan demak masyarakat jawa sering menyebut Kanjeng Sunan Kalijaga dengan sebutan modin. Sunan Kalijaga lebih di kenal dengan sebutan modin karena dahulu masih sangat asing bagi masyarakat jawa untuk menyebut ustadz.
[2] Keramat disini yang di maksud adalah sebuah tempat yang suci dan bertuah yg dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada masyarakat atau orang yang percaya.

[3] Uang kecil maksudnya adalah uang rupiah yang memiliki nilai nominalnya kecil. Biasa digunakan oleh anak kecil untuk membeli sesuatu.
[4] Ayem tentrem adalah bahasa jawa yang berarti hidup damai dan tenang Biasa digunakan para pemuka desa atau orangtua untuk memberikan nasehat terhadap kawula muda dan cucu-cucunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar