Sabtu, 19 Januari 2013


PROSES TRANSFORMASI MUSIK FUSION TERHADAP BENTUK LADRANG DALAM IRINGAN PEWAYANGAN: STUDI KASUS LADRANG DATANGLAH
Nurseto Bayu Aji
11112102
Latar belakang
Fusion adalah salah satu sub-genre dari musik jazz. Jenis musik ini dianggap paling berbeda diantara seluruh sub-musik jazz[1]. Asimilasi musiklah yang membedakan itu. Fusion merupakan percampuran antara musik jazz dan musik rock. Namun musik jazz masih tetap mendominasi pada fusion karena nuansa-nuansa akord dari ciri khas musik jazz serta improvisasinya masih sangat kental. Dan kesan ritmik dari musik rock yang sedikit mendominasi. Maka dari itu musik fusion memiliki keunikannya sendiri jika dilihat dari bentuk musikalnya.
Sekitar tahun 30an musik fusion dan jazz yang lain masuk ke Indonesia. Sudah diketahui bahwa indonesia merupakan negara dengan kekayaan musik etnik yang melimpah. Oleh hal demikian musik fusion di indonesia mulai berassimilasi dengan alat ataupun ensambel musik etnik Indonesia. Perkembangan musik ini sangat pesat. Salah satunya adalah di pulau Bali. Tengok Kulkul band. Band ini adalah salah satu kelompok musik yang mengusung genre musik etnik fusion. Formasi dari kukul band ini adalah: (1) Demas Narawangsa pada alat musik drum, (2) Awan pada alat musik bass, (3) Didiet pada alat musik biola, (4) R.M Aditya pada alat musik keyboard, (5) Faisar Fasya pada alat musik gitar, (6) Ketut Budiyasa pada alat musik kendang, suling, ceng-ceng kopyak, kulkul, gangsa pemade, (7) Wayan sudarsana pada alat musik gangsa kantilan, ceng-ceng kopyak, kulkul, (8) Wayan sudiyarta pada alat musik ceng-ceng, ceng-ceng kopyak, gangsa kantilan, kulkul, (9) Kadek setyawan pada alat musik gangsa pemade, ceng-ceng kopyak, kulkul. Dilihat dari struktur alat musik kulkul tersebut, mereka dapat menghasilkan karya-karya yang unik dengan ciri khas mereka sendiri. Salah satu karya mereka yang paling unik ialah lagu “Datanglah”.
Datanglah dinilai karya paling populer karena jika dilihat dari www.myspace.com/kulkulband, karya ini menduduki posisi pertama dari seluruh karya kulkul yang lainnya. Dan karena kepopulerannya, karya ini sampai dikenal dan berkembang dikalangan musik karawitan jawa. Hal ini terlihat dari sebuah karya berjudul “Ladrang Datanglah”. Karya dari Dwi Hatmanto Nugroho S.Sn ini berbentuk musik ladrang yang biasa digunakan dalam iringan musik pewayangan pada adegan jejer. Melodi utama pada ladrang datanglah yang dimainkan oleh biola atau bonang tidak berbeda dengan dengan melodi utama pada karya datanglah yang dimainkan juga oleh biola. Hal ini dikarenakan memang inspirasi pertama dari penciptaan karya ladrang datanglah berkiblat pada karya datanglah.
Proses transformasi musik adalah yang terjadi pada ladrang datanglah. Dikatakan transformasi musik karena terjadi perubahan struktur musik etnik fusion terhadap bentuk ladrang pada karawitan jawa dengan menambah, mengurangi pada pilihan alat musik serta bentuk musikalnya. Perubahan bentuk musikal sudah sangat terlihat sekali dari musik etnik fusion yang dimainkan dengan bentuk ensambel band dan gamelan bali dipindah terhadap bentuk ensambel karawitan gamelan ageng jawa. Penambahan dan pengurangan juga terlihat dari ladrang datanglah. Terjadi penambahan alat musik biola dan alat jenis brass pada gamelan ageng. Pengurangan dangan tidak memakai alat musik gender, rebab, suling, siter dan gambang. Hal tersebut dikarenakan ladrang datanglah hanya menggunakan irama 1 pada ladrang (tempo cepat).
Transformasi pada ladrang datanglah dipilih oleh peneliti karena dianggap sebagai hal yang unik. Konsep dasar dari unik sendiri adalah tidak ada yang sama atau lain dari pada yang lain. Tarnsformasi pada ladrang datanglah merupakan satu gebrakan yang baru bagi dunia musik karawitan dan iringan pewayangan pada khususnya. Sehingga sangat dimungkinkan hasil dari penelitian ini akan bermanfaat sebagai wacana tentang musikal atau perkembangan musik nusantara. Bermanfaat sebagai wacana perkembangan musik nusantara karena fenomena transformasi musik ini merupakan salah satu contoh problematika musik di nusantara yang muncul akibat musik barat yang berakulturasi dengan musik nusantara selanjutnya bertransformasi terhadap musik etnik nusantara yang lain. Manfaat lain ialah sebagai wacana musikal. Hal ini akan terlihat dari bagaimana proses transformasi musikalnya. Tentu akan panjang dan lebar proses tersebut mengingat hal yang terjadi adalah transformasi musik fusion terhadap musik bentuk ladrang. Sehingga dari proses pentransformasian musik tersebut akan menjadi sebuah ilmu baru atau sekedar apresiasi dalam pengaransemenan atau penciptaan sebuah karya pada dunia akademik. Pemaparan tentang harapan peneliti tersebut merupakan sebuah instrument dasar yang digunakan sebagai menentukan obyek formal serta material dalam penelitian ini.
Hal menarik lain ialah jika kita melihat dampak yang terjadi akibat hasil transformasi tersebut. Dari sisi musikal mengalami metamorfosis bentuk lagu. Dugaan sementara adalah jika dilihat dari sisi alat musiknya. Pada karya asli menggunakan alat musik yang bersifat modern dalam arti elektrik sebagai pengokoh struktural musikalnya. Setelah mengalami transformasi beralih terhadap alat musik tradisional dalam arti akustik. Yakni menggunakan gamelan jawa yang hanya tebal dalam melodinya namun kurang kokoh pada strukturalnya yang jarang terdengar bunyinya. Namun mengingat kembali bahwa pada kedua karya asli maupun hasil transformasi terdapat satu alat musik yang sama sebagai melodi utama yaitu biola. Biola ini terdapat di tengah-tengah kumpulan gamelan jawa ini semakin menguatkan bahwa juga terjadi proses akulturasi di dalam transformasi musik datanglah. Sehingga peneliti memiliki dugaan bahwa dampak yang terjadi setelah  terjadi proses transformasi pada karya datanglah ini ada dua yakni dampak positif dan negatif. Dampak positifnya dari transformasi musik ini adalah semakin membuat musik karawitan jawa mwnjadi lebih luas jangkauan penikmatnya. Maksudnya adalah dengan masuknya instrument barat seperti biola ini menjadikan sensasi yang berbeda dan memiliki warna baru bagi musik karawitan jawa. Namun secara musikal jawa dampak dari transformasi musik ini sedikit menurunkan kualitas karawitan dalam bentuk ladrang khusunya. Karena ladrang datanglah hanya menggunakan irama 1 (tempo cepat) dan tidak ada variasi dalam konteks irama yang lain. Dan mungkin anggapan dari pelaku karawitan tradisi, ini merupakan sesuatu yang di anggap merusak tradisi.
Dari data dan dugaan-dugaan di atas, akan muncul banyak persoalan yang dapat dikaji oleh peneliti berdasar data asal-usul ladrang datanglah serta manfaat penelitian tersebut. Diantaranya adalah mengenai teks musikalnya, alasan pemilihan karya asal untuk di transformasi, proses transformasi serta dampak secara kualitas musikalnya.
Komposer karya ladrang datanglah
            Ladrang datanglah adalah sebuah karya yang terbesut dari seorang komposer muda bernama Dwi Hatmanto Nugroho S.Sn. Selain profesinya sebagai komponis dalam musik tradisi-gamelan jawa, ia juga merupakan seorang pelaku kesenian tradisi sebagai seorang dalang wayang kulit dan kadang juga sebagai pemain kendangnya. Justru kendang wayang lah yang pertama ia tekuni sejak masih duduk di bangku smp. Awalnya dulu ia adalah seorang anak kecil yang gemar menonton pertunjukan wayang kulit klasik. Yang sering ditonton adalah dalang Sujarno dari wonogiri. Di daerah asal hatmanto di baturetno, wonogiri ini dulu sering sekali disajikan pertunjukan wayang kulit dalam acara hajatan atau peringatan hari besar lain. Walaupun hatmanto ini gemar menonton wayang kulit, namun ia lama kelamaan mengalami kejenuhan terhadap musik iringan wayang ini. Karena dulu sewaktu kecil hatmanto, iringan wayang masih menggunakan gending-gending klasik tradisi jawa khusunya adalah dari mangkunegaran. Hanya ada satu gending kreasi yang sering dibawakan, ini juga merupakan gending dolanan karya Narto Sabdo yang berjudul goyang semarang.
            Berawal dari seorang pengendang wayang di waktu smp, mulanya ia hanya menggantikan posisi kendang pada waktu manyura yakni pada waktu bagian akhir pertunjukan wayang. Sejak smp memang hatmanto ini sudah sering mengikuti pentas wayang kulit yang di ajak oleh pamannya yang juga merupakan seorang pengendang wayang. Dampak dari ia kecil sudah ikut mengiringi wayang ini adalah sampai sekarang gending-gending klasik yang dulu seringa ia dengar masih termemori dengan baik di benaknya. Padahal sewaktu kecilnya ia sering dimarahi oleh ibunya. Wajar menurut hatmanto jika seorang ibu sering memarahi anaknya. Karena itu merupakan satu bentuk rasa sayang dan kekhawatiran ibu terhadap anaknya. Tapi tetap saja hatmanto takut dan trauma ketika teringat sedang dimarahi ibunya. Hubungan dari kedua hal tersebut adalah ketika hatmanto kini mendengar gending-gending klasik tradisi, ia akan teringat lagi tentang ibunya dulu yang sering marah-marah. Dampaknya adalah ia sering menangis dan rindu akan ibunya tersebut.
            Mulai dari permasalahan tersebutlah hatmanto mulai memutuskan untuk merubah kesan iringan wayang yang menggunakan gending tradisi klasik. Awal dari usahanya ini selain terinspirasi dari kenangan terhadap ibunya, juga ia semakin terdorong dengan adanya kontemporarisasi oleh para dalang yang di anggap progresive seperti Manteb Sudarsono dan Sujiwo Tejo. Kedua dalang ini menurut hatmanto merupakan seorang tokoh bagi dunia pewayangan yang berani melakukan perubahan baik dalam cerita, tokoh pewayangan dan musik iringannya. Fokus terhadap iringan musiknya, dari kedua dalang ini memasukan unsur alat musik barat seperti biola dan terompet ke dalam karawitan jawa. Selain itu mereka juga memainkan dinamika musikal melalui hentakan kendang dan keras lirihnya tempo maupun volume musik.
            Hatmanto sangat mengidolakan kedua tokoh tersebut. selain itu ia juga merupakan penggemar musik orkestra yang penuh diwarnai dengan dinamika permainan. Oleh sebab itu kini hatmanto banyak berkarya yang berinfluence dari musik orkestra namun bermedium gamelan jawa. Awal dari karyanya dulu hanyalah ia ikut menambahi bagian karya musik dari dalang Entus sewaktu ia masih ikut di dalamnya sekitar tahun 2000. Namun ketika tahun 2009 awal ia mulai merintis karya tunggalnya yang diwadahi oleh kelompok Wayang Dugem. Wayang dugem ini adalah kelompok yang dipimpin oleh dalang Mario dan yang di konsep pertamanya adalah Yati Pesek. Yati Pesek disini hanyalah sebagai pengkonsep saja, apa lagi Mario juga hanya yang mendanai. Seluruh karya iringan wayang dugem yang menggunakan full combo band dan instrument balungan ini adalah hatmanto sendiri. Mulai dari proses karya pada wayang dugem ini lah hatmanto mengaku bertemu dengan anak-anak dari SMK Negeri 8 (SMKI) Surakarta yang menurutnya berpotensi tinggi. Salah satunya adalah pemain biola yang bernama Prisha Bashori. Prisha adalah pemain biola jebolan dari SMKI Solo. Dari Prisha inilah hatmanto mulai kenal dengan musik-musik barat yang progresive seperti misal musik dari kelompok Dream Theatre atau Kulkul dari indonesia sendiri.
Banyak lagu dari kulkul ini yang sering dimainkan oleh prisha ketika latihan atau ketika ia masih menginap di rumah hatmanto. Mulai dari hal inilah hatmanto terinspirasi untuk mencoba memasukan unsur keunikan musik dari kulkul kedalam karya-karyanya. Seperti misal karya dari kulkul yang berjudul Bali Dance. Karya tersebut mulai ia otak-atik dengan menurunkan temponya dan dimainkan dengan ensambel campursari, maka jadilah sebuah musik Opening campursari untuk kelompok musik Tri Tunggal dan CJDW. Hal tersebut belum menjadi keunikan dari hatmanto. Yang lebih unik dan ekstream lagi ialah ketika ia mencoba memasukan karya dari kulkul yang berjudul Datanglah kedalam musik iringan wayang menggunakan medium gamelan jawa seperti tujuan utama hatmanto. Pembahasan tentang datanglah gubahan dari hatmanto ini tentu akan panjang lebar dan akan dipaparkan dalam sub-bahasan selanjutnya ini.
Proses transformasi datanglah menjadi ladrang datanglah
            Seperti yang sudah dikemukakan didepan bahwa kiblat inspirasi pencipataan ladrang datanglah adalah dari karya datanglah. Oleh hatmanto, pertama ia terinspirasi oleh datanglah karena ia dulu sering mendengar karya ini yang dari alat pemutar musik atau mp3. Selain itu juga dari Prisha yang sering melantunkan melodi dari datanglah ini di depan hatmanto. Oleh karena itu hatmanto mulai terinspirasi untuk mengolah melodi datanglah tersebut menjadi satu buah musik yang lain. Namun awalnya ia masih mengalami keraguan dalam pembuatannya. Mau dibuat musik semacam apa datanglah ini supaya berbeda dengan yang asli dan manjadi musik yang baru.
            Tak lama untuk menjawab keraguan hatmanto ini, ibarat turunlah sebuah wahyu anugerah. Wahyu tersebut turun lewat seorang dalang muda yang bernama Danang. Danang merupakan salah satu anak dari Dalang idola Hatmanto yakni Dalang Manteb Sudarsono. Danang akan mengadakan pentas di kota Blora namun ia berkeinginan untuk memberikan sebuah sajian wayang kulit yang megah, baru dan kekinian namun masih tetap dengan konsep tradisinya. Disini Hatmanto sebagai komposer musik yang di sambati oleh Danang untuk menggarap iringan wayangnya. Karena hal ini sesuai dengan misi Hatmanto untuk membuat nuansa baru dalam iringan pewayangan. Maka hatmanto menerima titah dari Danag ini untuk membuat iringan pewayangannya.
            Hatmanto menggarap hampir seluruh iringan wayang Danang mulai dari adegan pertama hingga waktu menjelang pagi saat pementasan. Mulai dari proses ini pula hatmanto memiliki ide untuk memasukan Datanglah kedalam salah satu musik iringan. Pada awalnya ia ragu apakah bisa hal tersebut terwujud?. Pikirnya selalu bertanya-tanya seperti itu. Namun karena ia melihat teman-teman yang sangat semangat pada waktu proses latihan, ia yakin bahwa hal tersebut akan terwujud. Apalagi dengan ia setiap hari mendengar lantunan melodi datanglah oleh prisha pada gesekan biolanya. Terakhir ia memutuskan untuk mencari nada-nada seleh nya dahulu dari bentuk melodi biola ini. Proses ini merupakan proses dasar dari penciptaan ladrang datanglah. Akhirnya ketemu bentuk dari seleh balungannya. Kemudian dari sekedar balungan seleh ini hatmanto mengembangkannya menjadi bentuk balungan mlaku. Kemudian ia melakukan pengujian pertama dengan mengemixkan balungan mlaku tersebut dengan melodi datanglah yang dimainkan bersamaan. Akhirnya terbentuk komposisi pertama ladrang datanglah.
            Secara bentuk ladrang, komposisi datanglah sudah terbentuk. Namun hatmanto masih berfikir komposisi tersebut masih kurang dan belum ada rasa yang kuat. Kemudian setelah ia berfikir ulang terus menerus, ketemu tentang konsep kendang khas jogja yang akan digunakan dalam komposisi itu. Tak tanggung pula, ia memasukan unsur vokal yang sesuai balungan gending dari ladrang datanglah ini.
Jejel riyel
Rapet pipit tumpang dhengkul
Lenggah  iro tan selo
Tidhem tannyabowo
Banyak dhalang
Kacumas dwipanggo
Sayekti amuwuhi
Asri renggeping kang panangkilan
Syair vokal tersebut dibuat menyesuaikan fungsi dari komposisi ladrang datanglah pada awal penciptaannya sebagai iringan pewayangan saat adegan jejer kedaton. Oleh sebab itu pemilihan kata-kata menyesuaikan dengan situasi jejer kedaton. Situasi saat itu adalah seorang raja yang duduk di singgasananya sedang melakukan paseban agung dengan menghadap para punggawa kerajaan serta tamu kehormatan dari kerajaan lain. Suasananya mencerminkan suasana yang skral dan agung. Oleh sebab itu hatmanto memasukan unsur barat berupa alat musik tiup brass dan unsur dinamika musik barat berupa hentakan-hentakan ritmis yang ditonjolkan seperti layaknya musik ensambel orchestra.
Setelah ia memasukan melodi brass dan dinamika orchestra dalam komposisi ladrang datanglah, maka jadilah komposisi ladrang datanglah seperti yang terdengar saat ini. Pertama kali dipentaskan pada pentas wayang kulit oleh dalang Danang putra Manteb Sudarsono di kabupaten Blora, Jawa Tengah pada acara pesta rakyat. Setelah pementasan waktu itu, sebenarnya hatmanto belum puas dengan komposisi ladrang datanglah racikannya ini. Hatmanto bermaksud untuk menggarap kembali ladrang datanglah ini, namun karena hubungan kerjanya yang baik dengan banyak relasinya, komposisi ladrang datanglah digunakan dalam banyak pentas seperti dalam bentuk campursari, upacara pengantin jawa dan banyak lagi. Karena hal tersebut, komposisi ladrang datanglah tidak jadi digubah kembali dan komposisi ini sudah terlanjur dipatenkan.
Informan
Dwi Hatmanto Nugroho S.Sn (35) dalang wayang kulit, pemain dan komposer musik


[1] Musik yang termasuk dalam genre jazz antara lain funk, fusion, classic jazz, swing, R n B, dsb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar