Sabtu, 19 Januari 2013

TRANSMEDIUM KARAWITAN GAMELAN JAWA TERHADAP KARAWITAN CALUNG


TRANSMEDIUM KARAWITAN GAMELAN JAWA TERHADAP KARAWITAN CALUNG
Nurseto Bayu Aji
11112102
Latar belakang
Kesenian paling berkembang menurut sejarahnya adalah di daerah pusat pemerintahan atau kraton. Jawa tengah dulu adalah pusat pemerintahan terbesar di nusantara sebelum akhirnya berpindah ke jawa timur pada masa majapahit. Jawa tengah memiliki banyak kraton besar, salah satunya ialah kraton kasunanan surakarta. Kasunanan surakarta adalah kerajaan yang lahir dari peperangan saudara pada masa kraton mataram. Walupun kasunanan surakarta merupakan daerah hasil dari pecahan mataram, namun kasunanan surakarta mampu menunjukan eksistensinya sebagai kraton yang maju. Salah satu bidang adalah dalam kesenian.
Kesenian yang berkembang di dalam tembok kraton adalah sebuah seni yang tidak diketahui siapa penciptanya. Kesenian yang ada hanyalah beratas namakan seorang raja. Hal ini merupakan kebanggaan bagi si pencipta semi sendiri karena merupakan sebuah pengabdian terbesar kepada seorang raja. Misalnya adalah seni karawitan. Kesenian ini meliputi satu kelompok ensambel alat musik yang disebut gamelan. Kelompok musik ini lebih dikenal dengan sebutan karawitan. Karawitan sendiri berasal dari kata dasar “rawit” yang artinya adalah rumit. Rumit sendiri dapat terlihat dari struktur musikal krawitan gamelan jawa ini. Namun kata rawit sendiri dapat diartikan menjadi halus, cantik, berliku-liku dan enak. Karawitan jawa ini adalah satu jenis musik yang  menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar[1].
Seiring berkembangnya seni karawitan gamelan jawa ini didalam tembok kraton, hanya penghuni kraton sajalah yang dapat menikmatinya. Masyarakat golongan rendah atau penduduk desa pada waktu itu sangat sulit untuk menikmati musik tersebut. namun satu kasus terjadi di daerah jawa bagian barat yakni Banyumas. Masyarakat di Banyumas pada waktu itu mengalami kejenuhan terhadap hidup karena tidak memiliki kesenian musik sendiri. Hendak menikmati musik karawitan jawa pun mesti jauh pergi ke kraton yang pada waktu itu letaknya berada di surakarta dan yogyakarta. Oleh sebab itu mereka mencoba untuk menduplikat satu perangkat gamelan jawa kedalam alat musik lain yang dapat mewakili. Dengan tujuan untuk mendapatkan satu kesenian musik baru yang dapat memainkan lagu atau gending-gending layaknya gamelan jawa.
Transmedium yang terjadi pada fenomena ini. akhirnya mereka membuat perangkat alat musik calung yang terbuat dari bambu. Sistem pelarasannya pun menggunakan laras slendro 5 nada seperti pada gamelan jawa. Juga mengenal sistem pathet dan urutan sajian garap. Dilihat dari susunan ricikan atau alat musik pada ensambel karawitan calung pun juga begitu. Memiliki balungan utama yang biasa disebut calung atau gambang, slenthem, kempul, gong tiup dan kendang. Sajian gending-gendingnya pun sebagian besar pada mula-mulanya memainkan gending-gending dari gamelan jawa.
Rumusan masalah
Calung merupakan duplikasi hasil dari transmedium gamelan jawa. Dari wacana ini dan latar melakang tersebut akan banyak permasalahan yang menarik untuk dibahas. Selanjutnya permasalahan-permasalahan terbut akan dirumuskan menjadi rumusan masalah berikut:
1.     Bagaimana proses transmedium yang terjadi pada calung?
2.     Bagaimana dampak dari transmedium gamelan jawa menjadi calung?



Asal-usul Calung
Bambu adalah tanaman yang banyak dijumpai di daerah Banyumas yang memang merupakan daerah pedesaan. Oleh karena itu bambu disini dimanfaatkan oleh masyarakat banyumas untuk membuat sebuah alat musik yang menyerupai gamelan jawa. Awalanya belum terfikir untuk membuat satu perangkat gamelan, mereka hanya menciptakan alat musik yang bersifat solo atau dimainkan tanpa ensambel. Bongkel adalah nama musik pertama kali yang diciptakan.
Bongkel adalah salah satu bentuk musik rakyat yang terdapat di desa Gerduren, Banyumas (Jawa Tengah). Musik ini didukung sebuah instrumen perkusi (sejenis angklung bambu), berlaras slendro. Dalam satu bingkai terdapat empat tabung nada berbeda. Cara memainkan digoyang dan digatarkan menggunakan kedua tangan, serta diikuti tutupan jari-jari tertentu untuk menentukan nada. Karakteristik permainan bongkel terletak pada jalinan ritmis antara keempat tabung nada[2]. Kemudian mengalami evolusi menjadi alat musik baru yang bernama buncis. Buncis ini masih mengalami evolusi kembali menjadi krumpyung. Krumpyung disini sudah berbentuk alat musik yang menggunakan pelarasan slendro 5 nada, berbeda dengan buncis atau bongkel yang masih menggunakan pelarasan slendro 4 dan 3 nada. Ketiga alat musik bongkel, buncis, dan krumpyung tersebut memiliki generasi baru yang samapai saat ini diakui eksistensinya serta diakui perkembangannya yang sangat pesat yakni calung.
Calung berbeda dengan alat musik pendahulunya yang masih berbentuk seperti angklung jawa barat yang dimainkan dengan digoyang. Calung pada bentuk utuhnya menyerupai satu perangkat pada gamelan jawa yakni gambang. Persamaanya adalah sama-sama menggunakan 2 pemukul, menggunakan rancakan sebagai wadah bilahnya, serta cara permainannya. Perbedaannya adalah gambang menggunakan bahan bilah dari kayu sedangkan calung bilahnya dari bambu. Selain itu juga peletakan bilah gambang pada rancakan menggunakan bantuan paku sedangkan pada calung peletakan bilahnya menggunakan bantuan tali pluntur yang digantung dengan masing-masing bilah calung.
Transmedium dari gamelan ageng jawa
Transmedium adalah kegiatan memindahkan atau mengalihkan peran suatu benda terhadap media benda yang lain. Seperti alasan utamanya masyarakat banyumas yang berlatar belakang pedesaan jauh dari kehidupan seni seperti di kraton atau kota. Oleh karena itu mereka mencoba untuk menciptakan kesenian atau musik yang dapat menjadi hiburan atau penyemangat dalam kehidupan mereka. Saat itu yang paling menginspirasi bagi mereka adalah musik dari gamelan ageng jawa. Tentu jika mereka meniru dengan sama persis akan kesusahan terutama dalam bahan alat musik. Oleh sebab itu mereka mencoba memanfaatkan sumber daya alam sekitar yang sekiranya dapat dimanfaatkan sebagai pengganti logam. Disinilah awal dipilihnya bambu karena bentuknya jika dibagi dua atau di rentangkan mirip seperti bilah pada gamelan ageng. Secara bahan saja kegiatan ini sudah merupakan transmedium yang dilakukan oleh masyarakat banyumas. Mereka memindahkan fungsi serta peran bilah logam terhadap bilah bambu. Tentu jika dari bahan saja sudah mengalami transmedium secara peran dan fungsi, maka pada perangkat atau ensambel alat musik calung tidak akan jauh berbeda dengan ensambel gamelan jawa.
Pada ensambel gamelan calung ini seperti yang telah dipaparkan bahwa memiliki jenis ricikan gamelannya sendiri. Awal dari penciptaan ricikan-ricikan pada gamelan calung ini diduga mengadopsi dari perangkat gamelan jawa. Transmedium fungsi sangat terlihat sekali disini. Seperti hadirnya ricikan gambang, slentem, kempul, gong bumbung dan kendang pada gamelan calung.
1.     Gambang calung
Instrument gambang calung ini adalah instrument utama pada ensambel gamelan calung. Seperti yang sudah dipaparkan di sub bab sebelumnya bahawa instrument ini bentuknya menyerupai satu perangkat pada gamelan jawa yakni gambang. Persamaanya adalah sama-sama menggunakan 2 pemukul, menggunakan rancakan sebagai wadah bilahnya, serta cara permainannya. Perbedaannya adalah gambang menggunakan bahan bilah dari kayu sedangkan calung bilahnya dari bambu. Selain itu juga peletakan bilah gambang pada rancakan menggunakan bantuan paku sedangkan pada calung peletakan bilahnya menggunakan bantuan tali pluntur yang digantung dengan masing-masing bilah calung. fungsi dan peran dari gambang calung ini adalah sebagai pembentuk melodi utama dalam setiap repertoar musik calung. cara permainannya adalah imbal-imbalan atau bergantian. Tentu dengan hal tersebut akan membutuhkan dua gambang untuk membentuk satu melodi. Dalam setiap pertunjukan gamelan calung, biasanya dihadirkan 4 buah gambang bahkan lebih untuk tujuan imbal-imbalan tersebut.
2.     Slentem calung
Slentem calung berbentuk seperti gambang calung, namun lebih besar dan hanya memiliki lima bagian nada. Menggunakan rancakan bertali pluntur juga seperti gambang calung. Pemukul pada slentem calung hanya satu buah layaknya slentem pada gamelan jawa. Bentuk pemukul adalah tongkat pendek dengan ujung sebuah kayu benbentuk lempeng lingkar yang tepinya di balut dengan kain merah.Bentuk serta cara permainannya dalam struktur ensambel, slentem ini mirip dan sama persis seperti layaknya slentem pada gamelan ageng jawa. Maka slentem pada calung ini merupakan adopsi total bentuk, peran, fungsi dan nama dari slentem pada gamelan jawa.
3.     Kempul
Alat musik lain yang memiliki nama sama adalah kempul. Namun kempul pada gamelan calung ini berbeda bentuknya dengan kempul di gamelan jawa. Seperti yang kita ketahui bahwa bentuk dari kempul pada gamelan jawa adalah bulat besar dan berplencu, namun bentuk dari kempul pada gamelan calung adalah seperti layaknya slentem calung namun ukuran bilahnya lebih kecil, hampir mirip seperti bilah-bilah posisi nada rendah pada gambang calung. Jumlah bilahnya adalah lima seperti slentem calung. Cara memainkannya sama seperti slentem calung. Pemukul kempul ini juga berbentuk tongkat pendek dengan ujung sebuah kayu benbentuk lempeng lingkar yang tepinya di balut dengan kain merah, sama seperti slentem calung. peran dan fungsinya adalah menguatkan daripada slentem calung. dilihat dari bentuk, peran dan fungsinya kempul ini berbeda sekali dengan kempul pada gamelan jawa. Tidak terjadi transmedium pada instrument ini, hanya kesamaan nama yang tertera.
4.     Gong bumbung
Seperti halnya gong pada umumnya, gong pada gamelan calung ini fungsi serta perannya adalah sebagai suara bass atao low yang penempatannya pada setiap akhir kalimat lagu. Namun bentuk dari gong bumbung pada gamelan calung ini berbeda dengan gong pada umumnya di nusantara. Bentuk dari gong ini adalah malah mirip seperti alat musik degurigu dari australia, karena bentuknya hanya bumbungan bambu besar dengan peniupnya yang cara memainkannya ditiup menggunakan ambasire tertentu. Secara struktural dalam setiap pementasan gong bumbung ini permainannya mengadopsi permainan kempul gamelan jawa pada tabuhan dangdutan. Proses transformasi dari gamelan jawa adalah hanya terjadi pada nama yang sama, peran dan fungsi gong. Masalah bentuk tidak terjadi transformasi disini.
5.     Kendang
Pengertian dalam konteks gamelan jawa, kendang adalah sebuah alat musik Jawa (tepatnya dari Jawa Tengah) yang digunakan untuk mengimbangi alat musik lain atau mengatur irama. Cara menggunakan kendang yaitu dengan tangan tanpa alat bantu apapun. Jenis-jenis kendang yaitu:
1. Kendang kecil disebut ketipung.
2. Kendang menengah disebut kendang ciblon atau kebar.
3. Kendang gedhe (pasangan kendang ketipung) disebut kendang kalih.
Memainkan alat musik kendang termasuk  tidak mudah, hanya mereka yang sudah professional dalam bidang musik Jawa yang memainkannya. Memainkan kendang adalah mengikuti naluri si pengendang, jadi irama kendang yang dihasilkan mungkin saja berlainan pada tiap pemain kendang yang berbeda[3]. Namun didalam gamelan calung ini sangat mengadopsi atau tepatnya mentransformasi pola-pola kendang yang terdapat pada kendang gamelan jawa karena bentuk serta sifatnyanya sama. Terutama pola tabuhan langgam dan gecul karena jenis kendang yang digunakan dalam gamelan calung ini adalah kendang ciblon. Selain menggunakan instrument kendang ciblon dari jawa, terkadang gamelan calung ini juga menggunakan kendang sunda atau lebih akrab kita sebut sebagai kendang jaipong. Pemilihan kendang jaipong ini juga karena faktor geografisnya banyumas lumayan dekat dengan daerah sunda jawa barat. Selain itu juga faktor alat pendukung gamelan calung ini yang bahan utama adalah bambu dan bernenek moyang pada bongkel. Jika kita mereview ke atas kembali bahwa bongkel bentuknya mirip seperti angklung di jawa barat. Oleh sebab hal tersebut maka kendang sunda akan sangat masuk pada kesenian calung yang merupakan evolusi dari bongkel yang mirip angklung ini.
6.     Vokal pada gamelan calung
Pada gamelan calung ini jenis vokal yang dipakai adalah vokal sinden jawa. Voakal disini dilakukan oleh seorang wanita dengan suara pada tingkat atau scale sopran dan menggunakan suara dalam sesekali. Selain vokal sinden, juga hadir vokal laki-lakinya yang disebut gerong. Gerong disini biasanya porsinya hanya sedikit jika dibanding dengan vokal sinden karena gerong berbunyi hanya pada saaat tertentu pada bagian sela-sela lagu oleh sinden. Pada dasarnya jika kita melihat prinsip dari sinden dan gerong ini sangat kuat bahwa mereka melakukan transformasi dari vokal gamelan jawa. Terlihat dengan cengkok dan suara yang dihasilkannya sama. Dari segi visual juga, pakaian yang dikenakan saat petunjukan sama persis dengan yang ada pada kebudayaan gamelan jawa.
Dampak dari transmedium gamelan calung
            Transmedium merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh masyarakat banyumas. Pepatah jawa megatakan ngunduh wohinh pakerti ,pada umumnya pepatah ini digunakan untuk menunjukan hal-hal yang sifatnya jelek, namun disini penulios coba mendefinisikannya menjadi sesuatu yang netral, bisa jelek dan bisa baik. Artinya secara umum pepatah tersebut adalah “memetik setiap menanam” secara maknanya adalah setiap sesuatu yang dilakukan pasti akan menuai hasilnya. Seperti transmedium menjadi gamelan calung ini, bagaimana dampaknya.
            Dari sudut panfang budaya menurut penulis hal ini akan sangat menguntungkan bagi nusantara karena menambah investasi seninya. Namun bagi kebudayaan jawa dalam tembok kraton, ini akan sedikit merugikan karena kebudayaan mereka di tiru dengan semudah itu menggunakan medium yang berbeda. Hal itu sewaktu masih berlaku kebudayaan dalam tembok kraton dan desa. Namun kini semua sama, pemerintahan sudah ada di tangan negara atau presiden, maka dampak untuk merugi tersebut sudah tidak berlaku lagi karena yang ada sekarang hanyalah bagaimana melestarikan kebudayaan di nusantara.



[1] http://agvnk-0n3.blogspot.com di unduh pada 3 Januari 2013 pukul 23:58 WIB
[2] http://groups.yahoo.com di unduh pada 16 desember 2012 pukul 22:59
[3] http://dwi-jo.blogspot.com di unduh pada 13 Januari 2013 pukul 22:10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar